Senin, 19 Februari 2018

Kursi Antik #100 - SOLD -















Sepasang kursi antik kayu jati + meja, 
pada punggung kursi dihiasi keramik
kondisi original, rotan ada yang rusak dan lainnya harus diganti. 
Ada lis/profil yang hilang pada salah satu sisi
Kondisi meja harus diperbaiki dan dikencangkan.
SOLD

Minggu, 11 Februari 2018

Lemari Art Deco (LMR145) - SOLD -












Lemari art deco kayu jati eks lemari gramophone
Kondisi original
Tunggi 121cm Lebar 70cm Panjang sisi 60cm
SOLD

Kamis, 08 Februari 2018

Foto Keluarga Liem Seeng Tee -SOLD -


Foto 1
14 x 8,6cm






Foto 2
12 x 9,3cm
 

 



 Foto 3
12,5 x 9,5cm




Foto 4
12 x 9cm
 


Foto Keluarga Liem Seeng Tee, Pendiri HM Sampoerna


Liem Seeng Tee adalah seorang imigran dari sebuah keluarga miskin di Fujian, Tiongkok. Dia datang ke Indonesia pada tahun 1898 bersama kakak perempuan dan ayahnya. Tak lama setelah tiba di Indonesia, ayahnya meninggal.
Tidak lama setelah menikah dengan Siem Tjiang Nio tahun 1912, Liem Seeng Tee mendapatkan pekerjaan sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Dari situ Liem memperlihatkan kemampuan alaminya dalam meracik dan melinting rokok. Namun tidak lama kemudian, Liem berhenti dari pekerjaannya itu dan menyewa sebuah warung kecil di Jln. Tjantian di Surabaya Lama. Di warung tersebut Liem bersama istrinya berjualan bahan makanan kecil, sedangkan Liem Seeng Tee berusaha berjualan rokok racikannya sendiri. Usaha ini sempat maju ketika jalan raya di depan rumah dilebarkan, sehingga jalanan menjadi ramai dan pelanggan meningkat. Tetapi perkembangan pertama ini langsung dihantam oleh pukulan pertama, gubug tempat tinggal keluarga muda ini terbakar.

Tak lama kemudian ternyata datang kesempatan kedua, sebuah perusahaan tembakau bangkrut, dan Liem Seeng Tee ditawari untuk membeli unit usaha itu dengan harga murah, tetapi harus dilunasi dalam waktu kurang dari 24 jam. Liem Seeng Tee merasa beruntung sekali, karena kesempatan yang tak mungkin muncul lagi itu berhasil diraihnya, karena diam-diam istrinya menabung pada salah satu tiang bambu rumahnya. Di unit usaha inilah Liem Seeng Tee berkesempatan memamerkan keahliannya sebagai peracik tembakau yang sangat andal. Di sini suami istri yang kemudian dikaruniai dua putra dan tiga putri ini melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa, menggunakan mesin pelinting sederhana.

Tampaknya pasangan ini tidak puas dengan keadaan tersebut, dan bertekad untuk mengembangkan usaha itu menjadi lebih besar lagi. Langkah pertamanya adalah membentuk badan hukum dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee (1913), yang di kemudian hari diubahnya menjadi Handel Maatschappij Sampoerna  (dan setelah Perang Dunia II berubah lagi menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna / HM. Sampoerna). Perusahaan ini memproduksi rokok dengan aneka macam merek dagang seperti Dji Sam Soe, “123″, “720″, “678″, dan “Djangan Lawan”. Semua merek itu ditujukan untuk beragam segmen pasar, tetapi andalannya adalah Dji Sam Soe yang membidik segmen pasar premium, dengan logo dan kemasan yang dipertahankan hingga sekarang.
HM Sampoerna mengalami kesulitan besar sepeninggal Liem Seeng Tee, ketika usaha itu dikelola oleh dua putri Liem Seeng Tee (Sien dan Hwee) dan menantunya, yakni suami kedua putrinya tersebut. Kesulitan besar itu muncul karena datangnya investor asing yang masuk ke Indonesia membangun industri rokok putih dengan teknologi linting mesin. Sementara itu dua putra Seeng Tee, Liem Sie Hua dan Liem Swie Ling, tidak tertarik meneruskan usaha HM Sampoerna. Liem Sie Hua, si sulung, lebih suka membuka usaha tembakau, sedangkan adiknya, Liem Swie Ling, membuka pabrik rokok di Denpasar dengan merek Panamas, yang produksinya ternyata ikut menggerogoti pasar HM Sampoerna di Jawa Timur.

Khawatir akan nasib HM Sampoerna, Sie Hua akhirnya menyurati adiknya, dan memintanya untuk mengambil alih perusahaan itu, karena dia merasa usahanya sendiri tidak bisa dilepaskannya begitu saja. Gayung pun bersambut, Liem Swie Ling menyanggupi permintaan itu, bahkan akhirnya juga memindahkan Panamas ke Malang, tak jauh dari HM Sampoerna. Liem Swie Ling, yang kemudian selalu memperkenalkan diri sebagai Aga Sampoerna, kemudian dengan kekuatan penuh mencoba menghidupkan kembali HM Sampoerna sesuai dengan semangat besar ayahnya. Itulah yang merupakan awal kebangkitan baru HM Sampoerna

Di tangan Aga Sampoerna perusahaan itu semakin berkibar. Di awal tahun 70an, seiring dengan masuknya Putera Sampoerna, putera Liem Swie Ling / Aga Sampoerna, ke jajaran manajemen, perusahaan terus berkembang pesat. Jumlah karyawan sudah mencapai 1200 orang, dengan produksi 1,3 juta batang rokok per hari. Tahun 1979 pabrik milik HM Sampoerna sempat kembali terbakar habis, tetapi dalam waktu 24 hari Dji Sam Soe sudah berhasil kembali mendatangi konsumennya. Aga Sampoerna meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 1995 meninggalkan perusahaan yang terus semakin maju pesat.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Liem_Seeng_Tee 

Harga Empat Foto:
SOLD

Nampan Porselain #11 - SOLD --



 

 
Nampan porselain dimensi 38 x 24 cm
Pecah dan salah satu handle lepas
SOLD

Foto Antik #51 - SOLD -


 


Dua foto kecil, 8,5 X 5,5cm
SOLD

Etalase Kayu #5 - SOLD -





Etalase Kayu jati
Dimensi : Lebar126cm Tinggi 22 cm Panjang sisi 25cm
Kunci baru, salah satu engsel sudah diganti
Belum finishing ulang
SOLD
 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver